Akhir-akhir ini pergaulan saya selalu
diiringi oleh sahabat yang selalu galau karena sosok pasangannya. Galau lebih
ke arah mengecewakan. Di dalam pikiran sempat terlintas ingin membantu layaknya
Sang Jalan Emas yang selalu memberikan motivasi gaibnya, seperti Mamah Berjilbab
yang menasehati secara frontal melalui dakwahnya, atau seperti Sang Penyair yang
selalu menorehkan kata kata melalui perumpamaan, tetapi sayangnya saya belum
bisa seperti mereka.
Hanya bisa bertanya: Naha bisa pegat? (mengapa
bisa putus?), sing sabar nya, da jodoh ma
geus diatur ku nu di luhur. (yang sabar yang jodoh sudah diatur oleh yang Maha
Kuasa)
dan menulis di status FB ± pukul 18.00 16
Juni 2014:

